Kerikil yang Menjatuhkan: Kontroversi Pengibar Bendera Pusaka 17 Agustus 1945

LATAR BELAKANG

Mencermati polemik pemberitaan tentang siapa yang sebenarnya mengibarkan bendera pusaka pada saat proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, merupakan hal yang memprihatinkan. Hal tersebut karena berkaitan dengan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang peristiwanya hanya terjadi sekali. Kejadian tersebut merupakan bagian dari sejarah panjang bangsa Indonesia, tidak dapat diulangi lagi, tidak dapat direkayasa apalagi dibelokkan sesuai dengan kehendak segelintir orang yang ingin mengambil keuntungan baik untuk pribadi maupun golongan.

Pada kenyataannya, di abad informasi sekarang ada sekelompok orang yang memanfaatkan keampuhan media massa dan media sosial untuk mendapatkan keuntungan dan popularitas. Ilyas Karim adalah salah satu diantaranya yang pada awalnya tidak dikenal dan bukan siapa-siapa, sampai ia di publikasikan secara intensif melalui media massa, baik media cetak, elektronik dan online sehingga menjadi populer.
Sejak tahun 2008 penulis menyadari adanya upaya penyimpangan sejarah, khususnya tentang siapa yang sebenarnya mengibarkan bendera pusaka pada saat proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, baik yang mamakai seragam tentara PETA maupun yang bercelana pendek. Hal tersebut karena gencarnya pemberitaan Ilyas Karim yang mengaku dirinya sebagai pengibar bendera pusaka pada saat proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Dengan tiadanya bantahan dari siapapun yang berarti selama ini, dan juga karena para pelaku sejarah semuanya sudah meninggal dunia mengakibatkan Ilyas Karim merasa diatas angin. Dianggapnya dengan tiadanya pelaku sejarah yang masih hidup, dialah satu-satunya yang mengerti ceritera yang terjadi pada saat proklamasi kemerdekaan. Satu hal yang ia lupakan, bahwa catatan tentang kejadian dimasa lalu yang disebut sejarah masih tersimpan dan merupakan bukti sah dan valid yang dapat dipertanggung jawabkan. Namun memang perlu kita akui bahwa pembiaran berita yang tidak benar, maka lama kelamaan oleh publik menjadi dianggap benar. Kecenderungan tersebut mengarah kepada kebohongan publik.

Menyadari betapa kuatnya pengaruh informasi, maka penulis memutuskan untuk melawan pembohongan publik tersebut dengan informasi juga. Kata pepatah: “siapa yang menguasai informasi dialah yang akan memenangkan perang.” Sarana informasi yang penulis maksud adalah dengan menerbitkan buku yang ditulis dengan menggunakan referensi yang valid. Penulis memulai menulis buku tersebut pada tahun 2008, dan awal 2009 selesai. Masalah timbul ketika ingin menerbitkan buku tersebut, karena setelah ditawarkan ke berbagai penerbit, tidak ada yang bersedia menerbitkan. Alasan utama penerbit menolak untuk menerbitkan karena buku sejenis itu tidak laku dijual, atau buku itu merupakan buku keluarga. Penolakan demi penolakan dialami dari awal tahun 2009 sampai dengan tahun 2011, sehingga penulis hampir putus asa untuk dapat menerbitkannya. Namun Allah SWT, Tuhan YME masih berkenan menunjukkan kebesarannya, ketika penulis menghubungi penerbit Pustaka Sinar Harapan, ternyata mau menerbitkan buku tersebut.

Buku tersebut terbit pada bulan Juni 2011 dengan judul: “Abdul Latief Hendraningrat: Sang Pengibar Bendera Pusaka 17 Agustus 1945.” Penulis sebenarnya merencanakan untuk me-launching buku tersebut pada bulan Agustus, dan bila mungkin menjelang hari kemerdekaan. Tetapi karena bersamaan dengan bulan puasa, maka rencana tersebut tidak dapat dilaksanakan.

Pada hari-hari menjelang peringatan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 2011, pemberitaan tentang Ilyas Karim yang dianggap sebagai pejuang dan berjasa terhadap negara serta sebagai salah seorang pengibar bendera pusaka pada 17 Agustus 1945 yang ditelantarkan oleh pemerintah sangat gencar. Hal tersebut menumbuhkan simpati masyarakat terhadap Ilyas Karim menjadi semakin tinggi. Penggalangan dana yang “katanya” untuk Ilyas Karim juga dilakukan oleh sekelompok orang. Bahkan Wakil Gubernur DKI memberikan satu apartemen yang berlokasi di Kalibata City kepada Ilyas Karim. Perhelatan yang paling spektakuler juga diselenggarakan di halaman Gedung Joang pada hari Kamis malam tanggal 18 Agustus 2011 dengan acara pagelaran wayang kulit dan “talk show” oleh TVOne dengan bintang utamanya Ilyas Karim dan bintang tamu empat orang anggota DPR dan seorang budayawan. Acara tersebut seolah-olah menjadi milik Ilyas Karim yang banyak mendapatkan pujian sebagai pejuang dan sebagai pengibar bendera 17 Agustus 1945. Tayangan tersebut merupakan “dagelan sejarah” yang tidak lucu dan “paling naif” sepanjang sejarah terbentuknya republik ini, karena beberapa langkah kebelakang, persisnya di ruang sebelah kanan kamar ke dua museum Gedung Joang tersebut terdapat tulisan yang ditempelkan di tembok yang menyatakan bahwa pengibar bendera pada saat proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah Abdul Latief Hendraningrat dan Suhud, dengan saksi-saksi, Bung Karno, Bung Hatta, Ibu Fatmawati dan Ibu SK Trimurti. Tayangan tersebut juga telah melukai perasaan keluarga besar para pengibar bendera 17 Agustus 1945 yang sebenarnya.

FAKTA DI MEDIA MASSA

Pemberitaan tentang Ilyas Karim yang mengaku sebagai pengibar bendera pada saat proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, di media massa baik media cetak, eketronik, maupun on-line dari tahun 2008 sampai saat ini, sangat banyak. Jejaring sosial seperti FaceBook, Tweeter dan YouTube juga tidak kalah dalam memberitakan Ilyas Karim sehingga menjadi tenar. Bahkan sebagian besar stasiun televisi kita juga ikut meramaikan dengan menayangkan profil Ilyas Karim.

Dari pemberitaan di media massa sekitar proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 tentang Ilyas Karim, dapat disampaikan beberapa hal antara lain sebagai berikut:

  1. Ilyas Karim mengatakan bahwa yang mengibarkan bendera pada saat proklamasi adalah Shodancho Singgih dan Ilyas Karim.
  2. Ilyas Karim mengaku sebagi murid di Asrama (Angkatan) Pemuda Islam (API) yang bermarkas di Menteng 31, tetapi dilain waktu juga mengaku sebagai Angkatan Muda Islam (AMI).
  3. Pada malam 17 Agustus 1945, bersama 50-an teman dari API atau AMI diundang ke rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur No 56. Pada satu pemberitaan, yang mengundang adalah Abdul Latief Hedraningrat tetapi pada pemberitaan yang lain yang mengundang adalah Chaerul Saleh.
  4. Mengatakan bahwa salah satu wanita di foto pengibaran bendera pusaka adalah Ibu Rahmi Hatta.
  5. Adanya protokol yang mengatur pelaksanaan upacara, dan dimulai dengan pengibaran bendera pusaka yang diikuti dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh murid-murid SD Menteng. Kemudian pembacaan teks proklamasi oleh Bung Karno setelah pengibaran bendera pusaka.
  6. AntaraTV News dari Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara menyiarkan dalam bentuk video tentang Ilyas Karim sebagai pengibar bendera pusaka 17 Agustus 1945, di posting dua kali yaitu tanggal 16 Agustus 2011 dan tanggal 18 Agustus 2011. Dalam video tersebut antara lain Ilyas Karim mengatakan bahwa jam 7 pagi tanggal 17 Agustus 1945 ketika sampai di rumah Bung Karno ia ditarik oleh “Latief Ningrat” dan di tempatkan di dekat tiang bendera. Kemudian mengibarkan bendera, dan dibelakangnya ada Ibu Fatmawati dan Ibu Rahmi Hatta.
  7. Pada tahun 1946, mengusulkan nama Siliwangi kepada Kolonel A H Nasution, tetapi pada pemberitaan lain pada tahun 1948 diundang oleh Mr. Kasman Singodimedjo ke Bandung untuk membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan mengusulkan nama Siliwangi.
  8. Jejaring sosial FaceBook, dengan identitas “Satu Indonesia Untuk Ilyas Karim” dengan alamat http://www.facebook.com/notes/suara-rakyat/satu-indonesia-untuk-ilyas-karim/10150293361725487 terhitung mulai tanggal 26 Oktober 2010 telah mulai menggalang dana.

PEMBAHASAN

Berdasarkan fakta-fakta pemberitaan tentang Ilyas Karim tersebut diatas yang apabila di hadapkan atau di cross check dengan referensi-referensi sejarah yang ada dan valid, mengandung banyak ketidak samaan. Para pelaku sejarah yang berkaitan dengan proses kemerdekaan semuanya sudah meninggal dunia sehingga tidak mungkin dilakukan cross check terhadap mereka. Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk melakukan cross checkadalah melalui buku-buku atau artikel yang ditulis oleh para pelaku sejarah, serta dengan cara membandingkan foto. Selain itu, juga dapat mengacu kepada referensi yang ditulis berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli sejarah. Salah seorang sejarawan senior, Bpk A.B. Kusuma, dalam emailnya kepada penulis antara lain mengatakan, sebagai berikut:

  • Seperti yang saya kemukakan pada surat terdahulu, saya yakin bahwa Ilyas Karim adalah pembohong, sebab itu Ajudan Jenderal TNI AD musti diminta keterangannya apakah benar Iljas Karim berpangkat Letnan Kolonel dan apakah dia memang pemegang Bintang Gerilya. Kebohongannya harus diungkapkan. Kata-kata saya dapat saya pertanggung jawabkan karena pada waktu menjadi “editor tamu” untuk menerbitkan “Risalah Sidang BPUPKI/PPKI” tahun 1995, saya bersama Prof.Taufik Abdullah dan Sdr.Saafrudin Bahar diberi tugas tambahan untuk meneliti siapa saja Perintis Kemerdekaan kita yang pantas mendapat “Bintang Kehormatan”. Kami tidak pernah menemui nama Ilyas Karim.

Lebih lanjut Bpk AB. Kusuma mengatakan:

  • Tokoh Perintis Kemerdekaan dan aktivis (protagonis) yang terlihat dalam foto Proklamasi adalah tokoh yang tidak pernah berkoar menuntut jasa.

Benar sekali bahwa para pejuang kemerdekaan sama sekali tidak mengharapkan imbalan karena pada umumnya mereka mengimplementasikan motto: sepi ing pamrih dan rame ing gawe.  Hal tersebut seperti yang selalu disampaikan oleh Bpk Abdul Latief Hendraningrat kepada keluarganya.

Pada semua referensi sejarah yang penulis baca, pengibar bendera pusaka pada saat proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah Chudancho Abdul Latief Hendraningrat yang dibantu oleh seorang pemuda dari Barisan Pelopor bernama Suhud.

Namun demikian, berdasarkan pengakuan Ilyas Karim yang menyatakan sebagai yang bercelana pendek, dan semua pernyataan yang diuraikan diatas bila dihadapkan dengan berbagai referensi, dapat dipetakan sebagai berikut:

No

Versi Ilyas Karim Berdasarkan Referensi Keterangan

1.

Shodancho Singgih sebagai pengibar bendera yang berseragam PETA dan Ilyas Karim yang bercelana pendek. Berdasarkan buku: “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” oleh Cindy Adam hal 333 pengibarnya adalah Abdul Latief Hedraningrat. Berdasarkan buku: “Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman: Pemimpin pendobrak terakhir penjajahan di Indonesia, kisah seorang pengawal,” oleh Let Jen TNI (Purn) Tjokropranolo, hal 36, disebutkan bahwa Shodancho Singgih tidak ada di Jakarta pada saat proklamasi, karena sedang di Bandung untuk dinaikkan pangkatnya.Tidak ada satu referensipun yang menyatakan bahwa Ilyas Karim sebagai yang bercelana pendek. Banyak ahli sejarah yang menyatakan bahwa yang bercelana pendek adalah Suhud, dan mereka berani berdebat untuk mempertahankan pernyataannya. Keluarga Bung Hatta, seperti yang ditulis dalam berita online Okezone tanggal 25 Agustus 2011, menyatakan tidak mengenal Ilyas Karim. Masih banyak referensi lain yang menyatakan bahwa pengibar bendera pada saat proklamasi kemedekaan adalah Abdul Latief Hendraningrat dan Suhud.Tidak satu referensipun yang menyebutkan nama Ilyas Karim sebagai pengibar bendera 17 Agustus 1945.

2.

Ilyas Karim mengaku sebagai murid di Asrama (Angkatan) Pemuda Islam (API) atau Angkatan Muda Islam (AMI) yang bermarkas di Menteng 31 Berdasarkan buku: “Menteng 31: Markas Pemuda Revolusioner Angkatan 45 Membangun Jembatan Dua Angkatan” oleh AM Hanafi, tidak menyebutkan adanya nama Ilyas Karim sama sekali. Seandainya benar bahwa Ilyas Karim berasal dari kelompok Menteng 31 dan berjasa sebagai pengibar bendera 17-8-1945, pasti namanya akan dicatumkan dalam buku tersebut.Sangat aneh kalau ada kelompok pemuda Islam yang bergabung dengan kelompok sosialis yang berhaluan kiri dan tinggal dalam satu asrama. Selain itu, apakah pada saat itu, sudah ada organisasi Angkatan Muda Islam (AMI). Hampir dapat dipastikan bahwa tidak mungkin ada kelompok Islam yang bergabung dengan kelompok sosialis/komunis.

3.

Diundang ke rumah Bung Karno Tidak konsisten siapa yang mengundang. Dalam satu kesempatan mengatakan yang mengundang adalah Latief Hendraningrat tetapi dalam kesempatan lain Chaerul Saleh  

4.

Tentang Ibu Rahmi Hatta Bung Hatta menikah dengan Ibu Rahmi Hatta tanggal 18 Nopember 1945, sehingga dapat dipastika bahwa Ibu Rahmi Hatta tidak ada dalam foto tersebut.  

5.

Ada protokol dan murid-murid SD Menteng menyanyikan lagu Indonesia Raya Dalam buku: “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” oleh Cindy Adam hal 332 menyatakan tidak ada protokol. Dalam buku-buku referensi tidak ada disebutkan bahwa ada murid-murid SD Menteng. Hal tersebut senada yang dikatakan oleh sejarawan senior Bpk A.B. Kusuma, bahwa tidak ada murid SD pada upacara tersebut.  Apakah saat itu sudah ada SD Menteng?

6.

Urutan upacara: mengibarkan bendera kemudian pembacaan teks proklamasi. Tidak ada referensi yang mengtakan bahwa jam 7 upacara sudah dimulai. Menjelang jam 8.30 dokter Soeharto memeriksa kesehatan Bung Karno yang kambuh sakit malaria, sehingga tidak mungkin upacara dimulai pada jam 7. Semua referensi menyebutkan upacara dimulai jam 10.00 dengan pidato singkat Bung Karno yang dilanjutkan dengan pembacaan teks proklamasi dan kemudian pengibaran bendera. Ceritera yang dikatakan Ilyas Karim sangat tidak dapat dipercaya.

7.

Mengusulkan nama Siliwangi pada tahun 1946 kepada Kol AH Nasution dan tahun 1948 kepada Mr. Kasman Singodimedjo. Tidak konsisten. Pada tahun 1948 Mr Kasman Singodimedjo sudah menjadi Sekjen Partai Masyumi dan tidak di pemerintahan.  

8.

Pemanfaatan jejaring sosial untuk mencari dana dengan mengatasnamakan suara rakyat. Apa benar dana yang dikumpulkan diberikan kepada Ilyas Karim? Kalau mau menggalang dana mestinya tidak hanya untuk Ilyas Karim, karena pejuang sejati yang nasibnya kurang beruntung masih banyak. Dapat dimanfaatkan oleh fihak ke tiga untuk mencari keuntungan.

Selain itu, sepertinya Ilyas Karim sebagai pensiunan Letkol TNI-AD tidak mengerti kepangkatan PETA, karena selalu menyebutkan Abdul Latief Hendraningrat sebagai Shodancho (Komandan Peleton), padahal yang benar adalah Chudancho (Komandan Kompi). Tentang pengakuannya bahwa ia digusur dari Komplek Siliwangi yang sekarang menjadi gedung perkantoran Kementerian Keuangan, perlu di cross check. Tentunya ada daftar nama penghuni yang dimiliki oleh pejabat RW ketika itu dan dapat dimintai keterangan. Hal tersebut karena setiap penghuni yang digusur diberi pesangon yang dapat digunakan untuk membeli rumah di tempat lain.

Selain data tersebut diatas yang dibandingkan antara yang dikatakan oleh Ilyas Karim dengan referensi, dapat juga dengan membandingkan secara fisik antara Ilyas Karim dengan Suhud. Hal tersebut seperti yang dijelaskan oleh sejarawan, Dr Rushdy Hoesein di: http://sejarahkita.blogspot.com/2011/08/kontroversi-pengibar-bendera-17-agustus.html. Mengacu kepada berbagai referensi yang valid, dapat dipastikan bahwa 7 point tersebut diatas yang dikatakan oleh Ilyas Karim tidak ada yang benar.

Oleh karena itu, apabila yang dikatakan oleh Ilyas Karim dianggap benar, maka ada beberapa konsekuensi. Pertama, semua buku sejarah nasional, khususnya yang berkaitan dengan nama-nama pengibar bendera pusaka 17 Agustus 1945 harus diganti. Ke dua, buku-buku atau artikel yang ditulis oleh para pendiri negara (founding fathers) dan pelaku sejarah seperti Bung Karno, Bung Hatta, Ibu Fatmawati, Bapak Soediro, Mr. Soebardjo, Dr. Soeharto, dan lain-lain, harus direvisi. Ke tiga, sebagai akibat dari ke dua hal tersebut diatas, maka dapat diasumsikan bahwa semua pelaku sejarah yang nama-namanya tersebut diatas dianggap sebagai pembohong. Misalnya Bung Karno akan dianggap sebagai pembohong karena dalam buku: “Bung Karno Sebagai Penyambung Lidah Rakyat” yang ditulis oleh Cindy Adams di hal 333 mengatakan bahwa pengibar bendera pada 17 Agustus 1945 adalah Abdul Latief Hendraningrat. Konsekuensi sebagai pembohong, maka karyanyapun menjadi tidak dapat dipercaya.

Tentunya kita tidak ingin menyalahkan “the founding fathers” dan oleh karena itu tidak cara lain kecuali meluruskan sejarah. Jangan memberikan kesempatan kepada orang atau kelompok yang ingin membelokkan sejarah demi ambisi pribadi dan atau golongan. Indonesia tetap NKRI dan apapun yang terjadi harus dipertahankan karena memang itu yang telah diperjuangnkan oleh para pejuang kemerdekaan. Kita harus menghargai jasa pejuang sejati yang berjuang untuk negara tanpa pamrih, bukan pejuang avonturir yang memamerkan tanda jasanya.

Yang menjadi pertanyaan adalah: “Siapa sebenarnya yang ada dibelakang Ilyas Karim yang dapat mengendalikannya untuk mengatakan bahwa ia adalah sebagai pengibar bendera pusaka pada 17 Agustus 1945.” Apakah Ilyas Karim bertindak sendiri dan dengan penuh kesadaran apa yang ia perbuat? Atau apakah ada strategi besar dibalik semua ini?

Perlu diingat bahwa seseorang tidak akan jatuh terantuk batu besar, tetapi terpeleset batu kerikil dapat menjatuhkannya. Hal tersebut karena selama ini pemberitaan tentang pengibaran bendera pusaka 17 Agustus 1945 oleh orang yang mengaku dan tanpa didukung bukti-bukti serta tidak dapat diverifikasi oleh para pelaku sejarah yang sudah meninggal, bagaikan kerikil yang tidak berarti. Padahal pengibaran bendera pada saat proklamasi sangat erat kaitannya dengan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sehingga ini bukan hal yang dapat disepelekan apalagi dibuat main-main atau sebagai lelucon.

Sementara itu, berita-berita yang dianggap besar, seperti kasus korupsi yang masih hangat akhir-akhir ini, menjadi pusat perhatian semua media massa dan sebagian besar masyarakat. Sepertinya elit politik serta penguasa negara tidak menyadari atau peduli dengan berita kecil yang sebenarnya terkait dengan terbentuknya NKRI. Hal tersebut karena disibukkan dengan adanya berita besar yang sedang berkembang.

Karena penguasa dianggap tidak peduli maka masyarakat awam semakin simpati terhadap Ilyas Karim yang dianggap berjasa tetapi diabaikan oleh pemerintah. Hal tersebut terlihat dengan komentar-komentar di media online yang sangat menyanjung Ilyas Karim. Hal tersebut terjadi sampai dengan keluarga Suhud dan Abdul Latief Hendraningrat tampil di media mengungkapkan siapa yang sebenarnya sebagai pengibar bendera pada 17 Agustus 1945, terutama yang bercelana pendek.

Kita harus menyadari betapa kuatnya pengaruh media massa dan media sosial sepeti FaceBook, Twitter, dan YouTube yang banyak dimanfaatkan oleh sebagaian besar pengguna media online. Sebagai gambaran dapat disampaikan disini bahwa Presiden Ben Ali dari Tunisia dan Presiden Hosni Mubarak dari Mesir jatuh karena penggunaan media sosial dan media massa sebagai sarana yang efektif dan efisien untuk mengorganisir dan mengerahkan massa.

IRONIS

Sungguh sangat ironis, negara besar seperti Indonesia, masih ada pemimpin yang dapat “tertipu” oleh kelihaian seorang Ilyas Karim yang mengaku sebagai pengibar bendera pusaka pada tanggal 17 Agustus 1945. Tanpa membuka buku sejarah, banyak orang terlena dibuatnya.

Kalau seandainya hanya masyarakat awam yang tertipu, hal tersebut masih dapat dimaklumi. Tetapi bagaimana mungkin Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara yang notabene kantor berita resmi pemerintah yang tentunya memiliki banyak referensi menyiarkan berita yang tidak benar, alangkah naifnya.

Selain itu, Wakil Gubernur DKI juga merupakan salah satu dari sekian orang yang mempercayai ceritera Ilyas Karim. Yang menjadi pertanyaan adalah: “Apakah tidak ada staf ahli Gubernur yang mengerti sejarah?” Atau memang Pak Wagub-nya juga lupa sejarah?

Diatas semuanya, di rumah Ilyas Karim ada foto Presiden SBY dengan Ilyas Karim, yang menurut penuturannya dibuat tahun 2004 ketika SBY mencalonkan diri menjadi presiden. Tentunya foto tersebut awalnya menjadi kebanggaan tersendiri karena menjadi bukti adanya pengakuan secara tidak langsung terhadapnya.

Kalau seandainya benar bahwa Ilyas Karim sebagai pengibar bendera 17 Agustus 1945, ia akan merasa bangga mendapat undangan untuk menghadiri upacara peringatan hari proklamasi di istana. Namun menurutnya, ia lebih suka menghadiri undangan Gubernur DKI karena akan diberi apartemen. Dengan demikian kita dapat menilai seberapa besar kadar kejuangannya. Alangkah ironisnya.

KESIMPULAN

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan beberapa hal terkait dengan gencarnya pemberitaan Ilyas Karim yang mengaku sebagai pengibar bendera pusaka pada proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

  1. Setelah dicocokkan dengan berbagai referensi yang valid, semua ceritera tersebut diatas yang dikatakan oleh Ilyas Karim tidak ada yang mengandung kebenaran.
  2. Kalau seandainya ceritera yang dikatakan oleh Ilyas Karim dianggap benar, maka semua buku sejarah nasional yang diajarkan di sekolah dan semua buku dan atau artikel serta referensi yang ditulis berkaitan dengan para pelaku sejarah terutama disekitar proklamasi, harus direvisi.
  3. Kalau seandainya benar bahwa Ilyas Karim adalah pengibar bendera 17 Agustus 1945, mengapa tidak mengakuinya ketika para pelaku sejarah masih hidup, misalnya 40 (empat puluh) tahun yang lalu. Mengapa baru sekarang setelah para pelaku sejarah meninggal dunia.
  4. Salah satu ciri pejuang adalah “sepi ing pamrih” atau tidak mengharapkan imbalan dan tidak memamerkan jasa perjuangannya, dan hal tersebut tidak dimiliki oleh Ilyas Karim. Para pejuang kemerdekaan berjuang dengan satu tujuan, yaitu Indonesia merdeka dan mempertahankan kemerdekaan apapun resikonya.
  5. Diduga ada orang atau kelompok yang ingin mengambil keuntungan baik secara langsung maupun tidak langsung.
  6. Memang biasanya orang terantuk batu besar tidak akan jatuh, tetapi terpeleset kerikil yang menyebabkan jatuh.

RENUNGAN

Di dunia ini memang tidak ada kebenaran yang hakiki, karena kebenaran hakiki hanya dari Allah SWT, Tuhan YME. Di dunia ini, tidak terkecuali di Indonesia, salah dapat dibenarkan dan benar dapat disalahkan. Oleh karena itu, marilah kita merenung dan instrospeksi diri dengan menjawab pertanyaan berikut: “sebagai manusia dari mana kita berasal, untuk apa ada di dunia, dan mau kemana kita pergi.”

About these ads
Gallery | This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.

4 Responses to Kerikil yang Menjatuhkan: Kontroversi Pengibar Bendera Pusaka 17 Agustus 1945

  1. arif wicaksono hendraningrat says:

    saya sebagai generasi penerus bangsa memang menyadari bahwa generasi muda Indonesia..saat ini banyak yang tidak tahu sejarah..terbukti dari komentar-komentar yang di tujukan kepada keluarga suhud..di jaringan media elektronik seperti yahoo, kompas, detik,,, bahkan di anggap mengada-ngada oleh masyarakat yang sudah terlanjur menerima mentah-mentah kebohongan seorang ILYAS KARIM.. dan hal ini juga serupa dengan kondisi negara yang sedang di landa krisis moral, budaya, ideologi , ekonomi dan hukum.. contohnya banyak mereka yang di anggap “whistle blower” untuk kasus korupsi malah di penjara, sedangkan koruptornya bebas jungkir balik di luar,, lalu ketua DPR menyuruh untuk membubarkan KPK, padahal anggota DPR banyak yang kena kasus korupsi,, lalu kasus bank century cuma menjadi angin lalu saja..kemudian istri dari mantan WAKAPOLRI,, tidak pernah tertangkap..terbukti POLRI tebang pilih..lalu baca selebaran khotbah jumat, salah satu organisasi islam,, menuliskan ingin membubarkan sistem demokrasi yang sudah dibuat oleh para pendahulu..menjadi Syariah Islam…sehingga menjadikan NKRI menjadi negara sekuler dan masih banyak lagi kekacauan yang sedang menimpa ibu pertiwi ini

    • semuanya itu berawal dari tiadanya “SELF DISCIPLINE”. sebagian besar orang melihatnya keatas dan tidak melihat kebawah. sementara ada sekelompok orang yang saya percayai saat ini sedang mempresiapkan “grant strategy” yang perlu kita waspadai. kamu sebagai generasi muda jangan sampai mudah terpengaruh dengan ide-ide yang manis didepan tetapi tidak tahu dibelakangnya.
      merdeka.

  2. dr endang johani says:

    Saya melihat tayangan TV One itu dan langsung merasa aneh / tidak percaya. Pertama pak Ilyas tampak tak sesuai umurnya. Kedua dia bercerita ber api2 dgn bangga , sangat lain dg para pejuang kemerdekaan umumnya yg kalem tanpa pamrih tanpa menonjolkan diri. Dan, terutama ketika menyebut ada Ibu Rahmi Hatta disitu: tak mungkinlah… Selama ini diskripsi foto pengibaran bendera pusaka tak pernah menyebut ada ibu Rahmi Hatta disana… Bung Hatta masih lajang saat Proklamasi…

    • Terima kasih atas komentarnya dok. Betul sekali memang Pak Ilyas Karim tidak mencerminkan sebagai seorang pejuang yang “sepi ing pamrih dan rame ing gawe.” Dia banyak bicara yang tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Dia juga mengatakan bahwa ada anak-anak SD Menteng yang menyanyikan lagu Indonesia Raya, yang saat itu jelas-jelas tidak ada.
      Oh iya, kemaren fihak Legiun Veteran RI sudah menulis di harian Kompas, menyebutkan bahwa Ilyas Karim bukan pengibar bendera pada 17 Agustus 1945.
      Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s